Yumeko » wa http://www.yumeko.web.id Belajar budaya dan bahasa Jepang bersama Tue, 16 Mar 2010 08:00:12 +0000 http://wordpress.org/?v=2.9.2 en hourly 1 Tutorial Watarasebashi #25 – Penggunaan partikel topik dengan verba dan konsep kala taklampau http://www.yumeko.web.id/2008/11/08/tutorial-watarasebashi-25-penggunaan-partikel-topik-dengan-verba-dan-konsep-kala-taklampau/ http://www.yumeko.web.id/2008/11/08/tutorial-watarasebashi-25-penggunaan-partikel-topik-dengan-verba-dan-konsep-kala-taklampau/#comments Sat, 08 Nov 2008 04:34:08 +0000 Agro Rachmatullah http://www.yumeko.web.id/?p=219 [Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Di episode sebelumnya kita telah berkenalan dengan partikel topik wa. Kali ini kita akan mengenalnya lebih jauh, yaitu penggunaannya bersama verba.

Bentuk taklampau verba

Kalau kamu perhatikan pembahasan kita mengenai konjugasi nomina dan adjektiva, misalnya adjektiva-i, kamu bisa melihat bahwa adjektiva bisa berada pada bentuk taklampau dan lampau. Contohnya adalah samui (dingin, taklampau) dan samukatta (dingin, lampau).

Konsep ini disebut kala (tense) dan tidak dikenal pada bahasa Indonesia. Misalnya, pada kalimat “Sekarang dingin” dan “Kemarin dingin” kata “dingin” tidak mengalami perubahan walaupun menunjuk pada dua konsep waktu yang berbeda. Bahasa Indonesia mudah ya :) ?

Di bahasa Jepang, kala pada verba juga dibagi menjadi bentuk taklampau dan lampau. Kita belum mempelajari konjugasi lampau verba, tapi dari namanya sudah jelas bahwa bentuk lampau digunakan untuk menunjuk kejadian di masa lalu. Di lain pihak, verba yang diambil mentah-mentah dari kamus misalnya aruku (berjalan) akan memiliki kala “taklampau”, dan kita akan mempelajari berbagai penggunaannya di sini.

Sebenarnya ini adalah pembahasan yang intrinsik dengan verba, bukan dengan partikel topik wa. Hanya saja, dengan menggunakan partikel wa kita bisa mengangkat contoh-contoh kalimat yang lebih kongkrit. Secara bersamaan kita juga akan lebih menguasai penggunaan partikel wa.

Bentuk taklampau verba untuk menyatakan kebenaran umum

Bentuk taklampau verba bisa digunakan untuk menyatakan kebenaran umum. Inilah contohnya:

馬は走る。鷲は飛ぶ。鯨は泳ぐ。
uma wa hashiru. washi wa tobu. kujira wa oyogu.
Mengenai kuda, berlari. Mengenai burung elang, terbang. Mengenai ikan paus, berenang.

馬 (uma): kuda
走る (hashiru): berlari
鷲 (washi): burung elang
飛ぶ (tobu): terbang
鯨 (kujira): ikan paus
泳ぐ (oyogu): berenang

Perhatikan bahwa kita masih menggunakan terjemahan literalnya yaitu “Mengenai…” agar membiasakan diri dengan cara berpikir orang Jepang yang sebenarnya. Kalimat tersebut bermakna “Kuda berlari. Burung elang terbang. Ikan paus berenang.” Semuanya menunjuk pada kebenaran umum: Kuda adalah binatang yang berlari, entah itu dulu, saat ini, maupun di masa depan. Jadi bentuk taklampau bisa digunakan untuk membuat pernyataan yang selalu benar kapanpun waktunya.

Bentuk taklampau verba untuk menyatakan rutinitas

Bentuk taklampau juga bisa kita gunakan untuk menyatakan kebiasaan. Inilah contoh mudahnya:

私は日記を書く。
watashi wa nikki o kaku
Mengenai saya, menulis buku harian.

私 (watashi): saya
日記 (nikki): buku harian
書く (kaku): menulis

Kalimat tersebut tentu saja maksudnya “Saya menulis buku harian.” Di situ verba kaku menyatakan bahwa “menulis” merupakan aktivitas rutin. Ini beda dengan kebenaran umum, karena kebenaran umum merupakan hal yang berlaku setiap saat sedangkan rutinitas hanyalah aktivitas yang dilakukan pada waktu-waktu tertentu saja: Di kalimat atas kita tidak bermaksud bahwa kita menulis setiap saat, tapi misalnya hanya setiap hari sebelum tidur saja.

Dengan rutinitas ini, kita tentunya bisa menyisipkan keterangan waktu:

弟は毎朝牛乳を飲む。
otouto wa maiasa gyuunyuu o nomu
Mengenai adik, tiap pagi minum susu.

弟 (otouto): adik laki-laki
毎朝 (maiasa): setiap pagi
牛乳 (gyuunyuu): susu (sapi)
飲む (nomu): minum

Kalimat yang berarti “Adik saya minum susu tiap pagi.” tersebut memiliki keterangan waktu maiasa (tiap pagi). Perhatikan bahwa keterangan waktu itu tinggal disisipkan tanpa perlu partikel apapun. Keterangan waktu lain yang bisa kamu gunakan contohnya adalah mainichi (毎日, tiap hari), maiban (毎晩, tiap malam), itsumo (いつも, selalu), dan tokidoki (時々, kadang-kadang). Ini contoh lainnya:

彼は時々ジョギングをする。
kare wa tokidoki jogingu o suru
Mengenai dia, terkadang melakukan jogging

彼 (kare): dia (laki-laki)
時々 (tokidoki): kadang-kadang
ジョギング (jogingu): jogging
する (suru): melakukan

Secara sederhana kalimat tersebut bermakna “Dia terkadang jogging.” Hal menarik di sini adalah bahwa di bahasa Jepang jogingu merupakan nomina. Jadi kalau ingin menyatakan aksi jogging, kita harus menggunakan verba suru (melakukan). Verba umum suru ini akan dibahas lebih lanjut di lain kesempatan.

Bentuk taklampau verba untuk menyatakan aksi masa depan

Bentuk taklampau juga bisa digunakan untuk menyatakan aksi masa depan. Contoh ini dengan gamblang menunjukkannya:

明日は行く。
ashita wa iku
Mengenai besok, pergi.

明日 (ashita): besok
行く (iku): pergi

Ingat, pada episode sebelumnya telah dibahas bahwa topik tidak selalu berarti subjek. Di kalimat atas, topiknya adalah “besok”. Namun jelas bahwa subjeknya bukan “besok” karena “besok” tidak mungkin “pergi” ke mana-mana. Subjeknya tidak disebutkan, jadi bisa saja “saya”, “kamu”, “dia”, atau yang lainnya. Salah satu terjemahan yang mungkin adalah “Saya akan pergi besok.”

Yang menarik di sini adalah bahwa keterangan waktu sebetulnya tidak diperlukan untuk membuat kalimat dengan kala masa depan. Inilah contohnya:

彼は行く。
kare wa iku
Mengenai dia, pergi.

彼 (kare): dia (laki-laki)
行く (iku): pergi

Kalimat dia atas berarti “Dia akan pergi.” walaupun pada kalimat Jepangnya tidak ada kata apapun yang artinya “akan”. Ini karena bentuk taklampau memang bisa memiliki makna masa depan tanpa perlu tambahan kata apapun. Ingat hal tersebut baik-baik.

Tentunya kita bisa menyertakan lengkap pelaku beserta waktunya. Kamu bisa menggunakan contohnya kyou (今日, hari ini), ashita (明日, besok), raishuu (来週, minggu depan), raigetsu (来月, bulan depan), rainen (来年, tahun depan), dan ato de (後で, belakangan/nanti). Perhatikan bahwa ato de menggunakan partikel konteks de (“dengan cara belakangan”). Inilah contohnya:

お母さんは今日帰る。
okaasan wa kyou kaeru
Mengenai ibu, hari ini pulang.

お母さん (okaasan): ibu
今日 (kyou): hari ini
帰る (kaeru): pulang, kembali

Dengan bahasa Indonesia yang lebih alami, kalimatnya adalah “Ibu akan pulang hari ini.”

Ambiguitas

Perhatikan lagi kalimat ini:

私は日記を書く。
watashi wa nikki o kaku
Mengenai saya, menulis buku harian.

私 (watashi): saya
日記 (nikki): buku harian
書く (kaku): menulis

Setelah dibahas bahwa bahasa Jepang tidak memerlukan kata “akan” untuk menunjuk pada masa depan, bukankah kalimat di atas juga bisa berarti “Saya akan menulis buku harian”? Tentu saja bisa, dan sekali lagi di sini kita perlu tahu konteks pembicaraannya untuk bisa tahu arti yang sebenarnya.

Dalam bahasa Jepang, kita memang harus belajar menerima bahwa kalimat-kalimat yang terpisah memiliki banyak ambiguitas. Namun jangan khawatir karena kalau kita mengikuti pembicaraan atau teksnya dari awal, konteksnya akan cukup jelas untuk mengetahui arti yang sebetulnya dimaksud. Yang penting adalah selalu berpikiran terbuka atas kemungkinan yang ada dan banyak latihan.

Penutup

Di sini kita telah melihat contoh penggunaan partikel wa dengan verba. Bisa dilihat sekali lagi bahwa topik tidak selalu menunjukkan pelaku atau subjek kalimat. Kita juga telah melihat berbagai makna yang bisa disampaikan kala taklampau. Secara spesifik, bentuk taklampau sudah langsung bisa menyatakan aksi di masa depan (akan) tanpa perlu tambahan kata apapun.

Untuk lebih mempermudah pemahaman, berikut diberikan diagram yang menunjukkan tiga makna yang bisa disampaikan bentuk taklampau. Garis biru merupakan garis waktu, sedangkan titik merah menunjukkan kapan aksinya terjadi:

Diagram kala taklampau pada bahasa Jepang

Di episode berikutnya, kita juga masih akan membahas seputar partikel wa.

Lampiran: daftar kata

寒い (samui): dingin
歩く (aruku): berjalan
馬 (uma): kuda
走る (hashiru): berlari
鷲 (washi): burung elang
飛ぶ (tobu): terbang
鯨 (kujira): ikan paus
泳ぐ (oyogu): berenang
私 (watashi): saya
日記 (nikki): buku harian
書く (kaku): menulis
弟 (otouto): adik laki-laki
毎朝 (maiasa): setiap pagi
牛乳 (gyuunyuu): susu (sapi)
飲む (nomu): minum
毎日 (mainichi): tiap hari
毎晩 (maiban): tiap malam
いつも (itsumo): selalu
時々 (tokidoki): kadang-kadang
彼 (kare): dia (laki-laki)
ジョギング (jogingu): jogging
する (suru): melakukan
明日 (ashita): besok
行く (iku): pergi
今日 (kyou): hari ini
来週 (raishuu): minggu depan
来月 (raigetsu): bulan depan
来年 (rainen): tahun depan
後で (ato de): belakangan, nanti
お母さん (okaasan): ibu
帰る (kaeru): pulang, kembali
アニメ (anime): film kartun
見る (miru): melihat
魚 (sakana): ikan

]]>
http://www.yumeko.web.id/2008/11/08/tutorial-watarasebashi-25-penggunaan-partikel-topik-dengan-verba-dan-konsep-kala-taklampau/feed/ 11
Tutorial Watarasebashi #24 – Berkenalan dengan partikel topik wa http://www.yumeko.web.id/2008/10/28/tutorial-watarasebashi-24-berkenalan-dengan-partikel-topik-wa/ http://www.yumeko.web.id/2008/10/28/tutorial-watarasebashi-24-berkenalan-dengan-partikel-topik-wa/#comments Tue, 28 Oct 2008 13:53:27 +0000 Agro Rachmatullah http://www.yumeko.web.id/?p=213 [Pada seri tutorial ini, kita akan belajar bahasa Jepang dari nol dengan menggunakan lagu Watarasebashi sebagai materinya. Karena pembahasan tiap episode dibangun dari pembahasan-pembahasan sebelumnya, saya menyarankan agar kamu mengikutinya dari episode pertama.]

Sekarang waktunya kita untuk berkenalan dengan partikel yang perannya vital di bahasa Jepang yaitu partikel wa (は). Di lagu Watarasebashi, dia pertama kali digunakan pada potongan anata wa di awal-awal. Kita akan berusaha membahasnya dengan rinci dan hati-hati, karena pemahaman yang salah tentang partikel ini akan menghambat studi bahasa Jepangmu.

Penulisan

Pertama-tama, perlu diketahui bahwa partikel wa ini ditulis dengan hiragana “ha” (は). Jadi ingat, huruf は normalnya dibaca “ha” misalnya pada kata はい (hai, iya), namun saat berfungsi sebagai partikel は dibaca “wa”.

Partikel wa ditulis dengan hiragana は (“ha”), namun selalu dibaca “wa”.

Peran dan penggunaan

Partikel wa disebut partikel topik. Sesuai namanya, dia digunakan untuk menentukan topik pembicaraan kita. Dengannya, kita bisa mengatakan bahwa “saya bukan guru” (topiknya “saya”), “dia bukan guru” (topiknya “dia”), atau yang lainnya. Perhatikan contoh berikut:

私は先生じゃない
watashi wa sensei janai
mengenai saya, bukan guru

私 (watashi): saya
先生 (sensei): guru

Menggunakan bahasa Indonesia yang alami, kalimat di atas bisa diartikan “saya bukan guru”. Kenapa digunakan terjemahan yang aneh yaitu “mengenai saya…”? Ini karena hal yang ditandai dengan wa belum tentu merupakan subjek dalam kalimat bahasa Indonesianya. Misalnya adalah contoh berikut:

魚は好き
sakana wa suki
mengenai ikan, suka

魚 (sakana): ikan
好き (suki): suka

Kalimat di atas bisa saja berarti “ikan suka ganggang (atau makanan lain yang sedang dibicarakan)”, yang berarti bahwa “ikan” adalah subjeknya. Tapi kalimat di atas bisa juga berarti “saya suka ikan”, yang berarti bahwa subjeknya adalah “saya”. Kita tidak bisa tahu apa yang sebenarnya dimaksud tanpa petunjuk tambahan.

Jangan kaget bahwa satu kalimat sederhana bisa berarti dua hal yang jauh berbeda. Di bahasa Indonesia, kalimat seperti “saya suka ikan” juga bisa berarti macam-macam: “saya suka ikan (sebagai binatang peliharaan)” maupun “saya suka ikan (untuk disantap)”. Kalau melihat suatu kalimat di bahasa Jepang, kita harus menganggapnya sebagai bagian dari suatu tulisan panjang atau percakapan. Kita hanya bisa tahu persis arti yang diinginkan dengan cara melihat konteks pembicaraan yang telah ada sebelumnya.

Terjemahan mentah yang diberikan bagi sakana wa suki adalah “mengenai ikan, suka”. Kalau dilihat lebih lanjut, sebenarnya dua kemungkinan arti yang telah dibahas sama-sama cocok dengan terjemahan mentahnya:

  • mengenai ikan, (mereka) suka (makan ganggang)
  • mengenai ikan, (saya) suka (mereka)

Nah, telah dilihat bahwa kata yang ditandai partikel wa belum tentu merupakan subjek kalimat. Oleh karenanya di awal-awal kita akan menggunakan terjemahan mentah “mengenai sesuatu, …” agar kamu tidak terjebak pemikiran yang salah. Secara khusus, jangan menganggap wa sebagai “adalah” (yang menduduki fungsi tersebut adalah da). Kalau dirasa sudah mahir, nantinya tutorial ini juga akan langsung memakai terjemahan bahasa Indonesianya yang alami.

Setelah topiknya ditentukan dengan partikel wa, maka hubungan topik tersebut dengan sisa kalimatnya bisa bermacam-macam. Kita akan mengeluarkan beberapa contoh.

私は犬だ
watashi wa inu da
Mengenai saya, anjing

私 (watashi): saya
犬 (inu): anjing

Kira-kira apa maksud kalimat tersebut? Hal pertama yang terbayang mungkin saja “Saya adalah anjing”. Ya, itu salah satu arti yang mungkin, sama seperti novel Natsume SosekiWagahai wa Neko de aru” yang artinya “Saya adalah kucing”. Namun kalimat tersebut juga bisa bermakna “Saya memelihara anjing”, mungkin menjawab pertanyaan “Teman-teman, kalian memelihara binatang apa saja?” yang muncul sebelumnya. Arti lain juga masih mungkin, misalnya “Saya suka anjing”.

父はインドネシア
chichi wa indoneshia
Mengenai ayah, Indonesia

父 (chichi): ayah
インドネシア (indoneshia): Negara Kesatuan Republik Indonesia tercinta

Tentu saja kalimat tersebut tidak berarti “Ayah saya adalah Indonesia” kecuali kalau kamu ingin sedikit puitis. Arti yang masuk akal misalnya “Ayah saya lahir di Indonesia” atau “Ayah saya sekarang tinggal di Indonesia”. Dan kalau memang itu bagian dari pembicaraan tentang sepak bola, bisa saja maksudnya “Ayah saya fans timnas Indonesia”.

Untuk kalimat di bawah ini, silahkan berimajinasi sendiri mengenai artinya yang mungkin:

彼女は明日じゃない
kanojo wa ashita janai
Mengenai dia, bukan besok

彼女 (kanojo): dia (perempuan)
明日 (ashita): besok

Saya akan berikan suatu kemungkinannya: “Dia matinya bukan besok”. Ya, silahkan saja bayangkan sendiri settingnya, misalnya pembicaraan hidup mati seseorang antar dua malaikat. Tulis kemungkinan yang bisa kamu dapatkan di komentar ya?

Penutup

Di sini kita berkenalan dengan partikel topik wa yang ditulis dengan hiragana は. Partikel itu disebut partikel “topik” dan bukan partikel “subjek” karena memang tidak selalu menunjukkan subjeknya. Kita melihat bahwa AはB tidak selalu berarti “A adalah B”. Hubungan antara A dengan B bisa apapun, tergantung konteks pembicaraannya.

Diharapkan dengan membaca episode ini kamu bisa mulai merasakan bahwa partikel wa sangatlah ampuh dan multiguna, walaupun mungkin agak misterius. Kita masih akan membahas topik-topik yang berkaitan dengan partikel wa ini untuk beberapa episode ke depan.

Lampiran: daftar kata

Kata-kata yang tadi muncul sebagai contoh didaftar di sini.

あたな (anata): kamu
私 (watashi): saya
先生 (sensei): guru
魚 (sakana): ikan
好き (suki): suka
犬 (inu): anjing
父 (chichi): ayah
インドネシア (indoneshia): Indonesia
彼女 (kanojo): dia (perempuan)
明日 (ashita): besok
吾輩 (wagahai): saya (arogan)
猫 (neko): kucing

]]>
http://www.yumeko.web.id/2008/10/28/tutorial-watarasebashi-24-berkenalan-dengan-partikel-topik-wa/feed/ 6
Penjumlahan dan pengurangan http://www.yumeko.web.id/2008/05/30/penjumlahan-dan-pengurangan/ http://www.yumeko.web.id/2008/05/30/penjumlahan-dan-pengurangan/#comments Fri, 30 May 2008 07:36:26 +0000 Agro Rachmatullah http://www.yumeko.web.id/?p=30

Kemarin kita mempelajari kanji 一, 二, 三, dan 十. Seperti dijanjikan, kita sekarang akan menggunakannya untuk sedikit berhitung. Berita buruknya adalah, sebetulnya di matematika, dan untuk hal-hal yang menggunakan angka pada umumnya, kanjinya tidak dipakai lagi! Ya, simbol yang telah kita kenal baik yaitu 0-9 lebih banyak digunakan di zaman modern ini. Namun berita baiknya adalah kanji tersebut belum sepenuhnya hilang! Beberapa istilah umum masih menggunakan kanjinya, dan terkadang ada yang sengaja menggunakan kanjinya untuk memberikan sehembus aura kuno atau kesan klasik.

Contohnya, cover belakang majalah Bungei Shunjuu yang saya punya menggunakan kanji untuk harganya:

Bisa melihat kanji 三 di situ kan? (Harganya adalah 730 yen)

Sekarang kembali ke topik kita kali ini yaitu berhitung. Kita akan belajar penjumlahan dan pengurangan, jadi pertama-tama mari kita pelajari istilahnya.

Menambah

“Menambah” dalam bahasa Jepang adalah 足す (たす, tasu). Nemonik untuk menghafalkannya adalah “tas”. Bayangkan sebuah tas ajaib, dan kamu bisa menambah barang sebanyak apapun ke dalamnya:

Mengurangi

“Mengurangi” dalam bahasa Jepang menggunakan kata 引く (ひく, hiku) yang artinya “menarik”. Nemonik untuk menghafalkannya adalah anak yang menangis. Anak yang sedang menangis karena ngambek tidak mau pulang akan bersuara “hik, hik”. Nah, karena tidak mau diajak, maka orang tuanya terpaksa menariknya:

Hubungan antara “menarik” dengan “mengurangi” bisa dilihat di gambar paling atas artikel ini.

Membaca persamaan

Walaupun tidak umum untuk matematika, kita akan sengaja menggunakan kanji karena memang ingin berlatih membacanya. Lihat persamaan berikut:

一 + 一 = 二

Simbol = dibaca は (wa), jadi cara membacanya adalah “いち たす いち は に” (ichi tasu ichi wa ni). Mudah bukan? は (wa) yang kita gunakan adalah partikel topik.

Berikutnya pengurangan:

二 - 一 = 一

Mungkin kamu sedikit pusing (atau geli?) melihat serentetan garis-garis horizontal tersebut. Bertahanlah. Cara membacanya adalah “に ひく いち は いち” (ni hiku ichi wa ichi).

Latihan

Untuk menutup tulisan kali ini, silahkan latihan membaca persamaan-persamaan berikut. Sorot bagian yang abu-abu untuk melihat kuncinya:

Soal Kunci jawaban
二 + 一 = 三 に たす いち は さん (ni tasu ichi wa san)
三 + 三 + 三 + 一 = 十 さん たす さん たす さん たす いち は じゅう (san tasu san tasu san tasu ichi wa juu)
三 - 二 + 一 = 二 さん ひく に たす いち は に (san hiku ni tasu ichi wa ni)

Materi besok adalah cara membaca persamaan integral. (bercanda, bercanda!)

]]>
http://www.yumeko.web.id/2008/05/30/penjumlahan-dan-pengurangan/feed/ 6
Apa ini? Apa itu? http://www.yumeko.web.id/2008/05/25/apa-ini-apa-itu/ http://www.yumeko.web.id/2008/05/25/apa-ini-apa-itu/#comments Sun, 25 May 2008 02:35:33 +0000 Agro Rachmatullah http://www.yumeko.web.id/?p=6 Di pelajaran ini kita akan belajar cara menanyakan “Apa ini?”, “Apa itu?”, beserta cara menjawabnya seperti “Itu buku.” Bisa dipastikan bahwa pelajaran ini akan sangat berguna bagi kita-kita yang belum tahu banyak nama benda. Setelah belajar materi di tulisan ini, diharapkan pembaca rajin bertanya “Apa ini?” dan “Apa itu?” ke teman-temannya yang lebih tahu. Tanyalah nama benda apapun sebanyak-banyaknya, mulai dari debu sampai pembatas buku. Indikasi bahwa kamu sudah menguasai materi ini adalah teman-temanmu mulai menjauh begitu melihat mukamu.

Pertama-tama kita perlu tahu tentang jenis-jenis “ini”-”itu” yang ada di bahasa Jepang. Di bahasa Indonesia, digunakan “ini” untuk benda yang dekat dengan pembicara dan “itu” untuk benda yang jauh darinya. Pada bahasa Jepang, “itu” dibagi lagi menjadi dua jenis sehingga ingatlah bahwa jumlahnya ada tiga!

Pertama adalah これ (kore) yang artinya sama dengan “ini”, digunakan untuk benda yang dekat dengan pembicara. Kedua adalah それ (sore) yang berarti “itu”, namun di sini batasannya adalah bahwa benda “itu” berada di dekat lawan bicara, atau benda tersebut tidak terlalu jauh dari kedua belah pihak. Terakhir adalah あれ (are) yang berarti “itu” untuk benda yang benar-benar jauh dari pembicara maupun pendengar.

Inilah sedikit ilustrasi yang mungkin bisa kamu cetak dan tempel di dinding kamar kamu:

Kata terakhir yang kita perlukan adalah 何 (なに, nani) yang berarti “apa”. Berbekal semua pengetahuan tadi, kita sekarang bisa membuat pertanyaan pertama kita:

これは何?
kore wa nani?
Apa ini?

Di sini digunakan partikel topik “wa” yang selalu ditulis dengan hiragana “ha” (は). Partikel tersebut menempel pada これ (kore) dan menyatakan bahwa topik pembicaraannya adalah “ini”. これは (kore wa) bisa dipahami sebagai “ngomong-ngomong tentang ini…” Setelah topiknya dibuat jelas dengan は (wa), maka kita bisa mengeluarkan pertanyaannya yaitu 何 (nani).

Struktur untuk bentuk lainnya sama persis. Lihatlah contoh pembicaraan ini:

ヘリ:これは何?
heri: kore wa nani?
Heri: Apa ini?

アディット:それは本だ。
aditto: sore wa hon da.
Adit: Itu adalah buku.

(hon) adalah buku. だ (da) mirip dengan “adalah” karena bisa dihilangkan tanpa masalah. Jadi pada contoh sebelumnya Adit bisa saja menjawab 「それは本」 (sore wa hon). Keberadaan 「だ」 (da) membuat kalimatnya tegas dan deklaratif, sehingga laki-laki lebih cenderung menggunakannya. Lalu perhatikan bahwa “ini”-nya pihak pertama menjadi “itu” bagi pihak kedua.

アンドレ:それは何?
andore: sore wa nani?
Andre: Apa itu?

れいな:これは鉛筆。
reina: kore wa enpitsu.
Reina: Ini pensil.

Di sini Reina adalah seorang perempuan dan dia tidak menggunakan だ (da). Ini tidak selalu terjadi — perempuan juga terkadang menggunakan だ (da) kalau ingin ekstra tegas.

愛:あれは何?
ai: are wa nani?
Ai: Apa itu? (nun jauh di sana)

リザ:あれは飛行機だ。
riza: are wa hikouki da.
Riza: Itu (yang jauh di sana) adalah pesawat terbang.

Di contoh terakhir ini keduanya menggunakan あれ (are) karena bendanya sama-sama jauh dari keduanya.

Sebagai bonus diberikan beberapa kata tambahan untuk berlatih tanya-jawab seperti contoh-contoh kalimat di atas:

  • 恐竜 (きょうりゅう, kyouryuu): dinosaurus
  • 花火 (はなび, hanabi): kembang api
  • 卵 (たまご, tamago): telur
  • 唇 (くちびる, kuchibiru): bibir
  • 幽霊 (ゆうれい, yuurei): hantu

(Kalau mau, kamu bisa coba latihan membuat kalimat melalui sistem komentar di bawah, dengan salah satu kata di atas maupun katamu sendiri)

Hal terakhir yang perlu diingat adalah bahwa bahasa yang digunakan sepanjang artikel ini adalah bahasa dasar, bukan bahasa sopan. Kamu bisa menggunakannya dengan teman-teman kamu, namun jangan dipakai untuk berbicara dengan guru atau orang lain yang perlu dihormati.

]]>
http://www.yumeko.web.id/2008/05/25/apa-ini-apa-itu/feed/ 15